Mengejutkan, Tokoh dua Desa Penyangga, Blakblakan soal PT. DDP & KMS: Tokoh muda Mukomuko turut buka suara Pasca Insiden Kamis 16 Mei

0
174
Keterangan Foto: Julian Simon- Agus Aswandi- Maridun/Humas PT DDP- Pemerhati Perkebunan-Tomas Air Berau © SP.id
Pewarta: Arie I Editor: Ct80 I Rabu (22/05)
DAERAH-KASUS
BENGKULU, Mukomuko -swaraproletar.id- Mengejutkan tiba-tiba beberapa Tokoh Masyarakat dua Desa Penyangga Perusahaan Perkebunan PT. Daria Dharma Pratama angkat suara soal perselisihan antara Perusahaan ini dengan kelompok KMS yang tertangkap tangan telah melakukan Tindak Pidana Pencurian TBS milik Perusahaan Perkebunan PT. DDP yang dilakukan secara berulang kali dan mengklaim lahan tersebut milik mereka.
Tiga tokoh Masyarakat Desa penyangga melalui wawancara khusus Media ini, ia menyampaikan secara Blakblakan keresahan dan kesedihan hatinya melihat bagaimana beberapa oknum warganya melakukan berbagai tindakan yang melanggar hukum, sehingga merugikan Perusahaan yang telah memberi banyak kemanfaatan terhadap Pembangunan dua Desa tersebut sejak tahun 1984 lalu.
Maridun, Ketua Badan Musyawarah Adat (BMA) Desa Air Berau, Amir, Tokoh Adat sekaligus salah satu Kepala Kaum di Desa Karya Mulya dan A. Gafur juga adalah Tokoh Adat dan Mantan Ketua BMA Desa karya Mulya saat diwawancarai mereka tiga tokoh ini tegas mengatakan keberadaan kelompok KMS tersebut bukanlah mewakili suara Masyarakat Desa mereka.
Bahkan mereka mensinyalir anggota kelompok ini mayoritas adalah warga dari luar, untuk itu mereka tidak setuju untuk membawa nama Masyarakat dua Desa ini dalam aktifitasnya, apa lagi yang dilakukan kelompok ini bukanlah pendampingan untuk Masyarakat, melainkan tindak Pidana yang melanggar hukum, dan kalau mereka mewakili Masyarakat dengan niat dan tujuan yang baik, tentunya mereka berunding dengan kami pengurus Desa dan yang tua-tua.
Mereka juga menyampaikan secara Blakblakan keresahan dan kesedihan hati mereka melihat bagaimana beberapa oknum warganya melakukan berbagai tindakan yang melanggar hukum, sehingga merugikan Perusahaan yang telah memberi banyak kemanfaatan terhadap Pembangunan Desanya sejak tahun 1984 lalu, yang dikhawatirkan mereka adalah karena ulah beberapa oknum ini nanti akan merusak hubungan baik yang selama ini mereka jaga dan mereka bina.
Kami tegaskan kalau warga kami saat ini tidak mempersalahkan proses perpanjangan HGU PT DDP-ABE, Kita boleh protes kalau misalkan mereka merambah lahan baru atau lahan Masyarakat yang dikuasai mereka sepihak, atau mereka jahat masa bodoh dengan Desa kita, ini mereka menyambung izin yang memang hak mereka salahnya Dimana, jangan buat malu desa kita, seolah-olah kita biasa merampas yang bukan hak kita seperti itu dan bodoh nggak tau hukum, lagi pula kita punya adat yang harus dijunjung tinggi, bukan Desa kriminal,” yang penting hubungan baik kita kita jaga, agar kedepan antara Desa dan PT ini bisa saling membantu,” Ungkap mereka.
Insiden Kamis 16 Mei ini juga mengelitik beberapa NGO dan Pemerhati Perkebunan diKabupaten Mukomuko untuk memberikan masukan, Agus Aswandi, SP Politisi sekaligus Pemerhati Perkebunan ini meminta semua pihak untuk berfikir secara jernih dan bisa menahan diri dengan menempatkan masalah tersebut dalam ruang kemufakatan dan koridor aturan hukum dan perundang-undangan yang berlaku.
Sebagai Negara hukum kita harus kembalikan semua nya kepada aturan hukum, silahkan masing-masing pihak menunjukkan dokumen pendukung kepemilikan baik lahan maupun tanaman yang tumbuh disana, tidak bisa kita lepas dari norma-norma itu dalam melakukan penyelesaian konflik seperti ini.
Nah dikasus kita ini kalau saya lihat, masalah terjadi ketika PT. DDP menjalani proses perpanjangan HGU, kemudian ada yang tidak sepakat atas proses perpanjangn HGU tersebut, lalu terjadilah penguasaan lahan itu yang dianggap bukan bagian dari HGU lagi, ini kurang tepat menurut saya sebab, ketika proses perpanjangan HGU tersebut berjalan Hak atas lahan beserta yang ada diatas nya tetaplah menjadi hak pemilik HGU sebelumnya, hingga proses pengajuan itu dinyatakan diterima untuk dilanjutkan atau tidak diterima untuk dicabut, artinya kalau ini masih dalam proses kita sudah kuasai, nggak ada sentuhan Konflik Agrarianya disana, Maaf ini namanya mencuri hak orang lain.
Terakhir saya mau sampaikan dengan kawan-kawan pejuang, teruslah berjuang, tetapi tentunya haruslah dengan dasar-dasar yang jelas, sehingga tidak dinilai ada kepentingan personal yang dipaksakan harus, sebab pada akhirnya kekalahan mempermalukan kita dan fitnah pembodohan terhadap orang lain menyertai, dan sebagai putra Daerah Kabupaten Mukomuko saya juga mengharapkan kepada para investor untuk senantiasa menjaga  komunikasi dan saling mengisi sehinga simbiosismutualisme kita tetap terjaga,” Tutup Agus.
(Sumber: SP.id)
By Redaksi: swaraproletar.id@merahmerdeka
Artikulli paraprakHelikopter Presiden Iran dan Menlu Iran Kecelakaan: Rusia Kirim Dua Pesawat Bantu Pencarian Presiden Iran
Artikulli tjetërRutar Indonesia Rilis Hasil Survei Persepsi Masyarakat Jelang Pilkada 2024, Tiga Nama Diprediksi Bakal jadi Kandidat Terkuat Cawalkot Palembang: Basyarudin bakal jadi rising star.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini