Jenderal Sutarman dulu di copot Jokowi sekarang muncul dukung Prabowo-Gibran, Begini Rekam Jejaknya

0
9
Foto: Mantan Kapolri Jenderal Polisi (Purn.) Drs H Sutarman, S I K (kompas.com/dani prabowo) © Disediakan oleh Tribunnews Wiki
Pewarta: Arie I Editor: Ct80 I Selasa 06-02-2024
BERITA-Pemilu
NASIONAL, Jakartaswaraproletar.idMantan Kapolri Jenderal (Purn) Sutarman yang dulu dicopot Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya muncul lagi.
Lama tak terdengar kabarnya, Sutarman kini terlihat hadir di barisan pendukung capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dalam debat capres terakhir di JCC, Senayan, Jakarta, Minggu, 4 Februari 2024.
Sutarman tampak duduk di barisan kursi paling depan.
Jenderal bintang empat itu berada di antara Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman dan Letjen (Purn) Prof. Dr. dr. Terawan Agus Putranto.
Sutarman sendiri punya pengalaman mendampingi tiga presiden berbeda, antara lain Presiden Gus Dur, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan Presiden Jokowi.
Ia dipercaya menjadi ajudan Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid alias Gus Dur pada tahun 2000 sampai 2001 lalu.
Pada 2013, Sutarman dilantik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Kapolri.
Rekam jejak Sutarman
Jenderal Sutarman sendiri pernah viral karena jabatannya sebagai Kapolri dicopot oleh Presiden Jokowi, 9 bulan jelang pensiun.
Namanya makin dikenal karena setelah dicopot ia memilih menjadi petani ketimbang jabatan sebagai duta besar.
Jenderal Sutarman dilantik sebagai Kapolri oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY pada 25 Oktober 2013.
Dia merupakan mantan ajudan Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Saat purna bakti, Jenderal (Purn) Sutarman memilih pulang dan hidup di kampung halamannya di Jawa Tengah.
Sebenarnya Presiden Jokowi telah mengajaknya untuk mengisi beberapa posisi dalam pemerintahan, salah satunya sebagai duta besar.
Namun, dia mengaku tak tertarik lagi mengisi jabatan di pemerintahan dan mengaku ikhlas dengan keputusan sang presiden.
Jenderal (Purn) Sutarman lebih memilih menjadi petani membantu ayahnya.
“Saya loyal 100 persen pada presiden apapun yang diputuskan, bahkan sampai beliau menawari saya beberapa jabatan. Saya katakan saya akan pensiun menikmati sisa-sisa hidup ini. Saya bilang ke Presiden akan bantu bapak saya bertani,” kata Jenderal (Purn) Sutarman saat baru saja dicopot.
Sutarman sama kariernya dengan Komjen Listyo Sigit Prabowo dan Jenderal Idham Azis, menjabat Kabareskrim sebelum akhirnya diangkat jadi Kapolri.
Darah polisi sama sekali tak pernah mengalir dalam pohon keluarga Jenderal (Purn) Sutarman.
Di keluarganya, dia satu-satunya orang yang terjun ke dunia kepolisian.
Dikutip dari arsip berita Kompas.com, Jenderal (Purn) Sutarman bertutur, dirinya melewati awal kariernya dengan susah payah.
Sebagai anak petani, Jenderal (Purn) Sutarman mengaku hidup penuh dengan kesulitan.
“Saya berasal dari keluarga petani miskin, tapi hal itu yang membuat kami sekeluarga menjadi sosok pekerja keras di Sukoharjo,” tutur Sutarman saat berbincang dengan Komisi III DPR di kediamannya, kawasan Bintanto, Tangerang Selatan, Rabu (9/10/2013).
Anak sulung dari lima bersaudara itu mengaku, saat baru menjadi polisi, dia harus menanggung biaya sekolah keempat adiknya.
Saat melamar sang istri, Elly Sugiarti, Sutarman pun memberitahukan sejak awal tentang kewajibannya menghidupi adik-adiknya itu.
Dia berharap agar Elly tidak meminta kehidupan yang berlebih lantaran gaji Rp 90.000 yang dimiliki Sutarman dianggapnya pas-pasan ketika itu.
“Saya hanya minta dia untuk bisa hidup di asrama, dan bisa membagi gaji saya. Gaji sebesar Rp 90.000 ketika itu saya minta agar dikelola dengan baik agar cukup untuk biaya makan, biaya hidup, biaya adik-adik saya, bagaimana itu caranya harus cukup,” ungkap Sutarman.
Sejak berkarier di dunia kepolisian pada tahun 1982, Sutarman sudah malang melintang menjabat sebagai anak buah bawahan, hingga dipercaya sebagai ajudan Presiden RI keempat Abdurrahman Wahid.
Sutarman juga dipercaya sebagai Kapolda Riau, Kapolda Jawa Barat, Kapolda Metro Jaya, dan kini Kabareskrim.
Dari tempat tinggal hanya di asrama, Sutarman pun pelan-pelan mengumpulkan kekayaannya.
“Sejak kecil, saya bekerja keras dan menabung sedikit demi sedikit sehingga punya tempat ini. Begitu pindah ke Jakarta, rumah ini selalu saya tempati karena dibangun dengan susah payah. Rumah ini dulunya adalah tempat jin buang anak. Jadi ini agak lebih besar dibandingkan rumah yang lain karena saya dekat dengan masyarakat Betawi di sini, karena sampingnya ini tanah kampung,” ujar Sutarman.
Beranjak dari kehidupan sederhana, Sutarman menceritakan dirinya juga mengajari ketiga anaknya hidup sederhana.
Setiap berulang tahun, Sutarman mengajak anak-anaknya ke panti asuhan.
“Saya tidak mau mereka nanti dianggap sok, atau mentang-mentang anaknya polisi dan sebagainya,” kata dia.
(dok: TribunNews WIKI)
By Redaksi:swaraproletar.id@merahmerdeka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here