Cara mengajarkan anak mengendalikan emosi, ketika tiba-tiba ia marah tak terkendali

0
170
Foto: Ilustrasi Anak yang sedang marah (dok: SP.id)
Pewarta: Arie I Editor: Ct80 I Kamis 18-01-2024
BERITA: Kesehatan
NASIONAL, Jakarta– swaraproletar.id- Anak-anak sering kali mudah marah dan emosinya meledak-ledak saat keinginannya tak terpenuhi. Alih-alih merasa takut, Bunda dapat menjadikan waktu ini sebagai momen cara mengajarkan anak kendalikan emosi, lho.
Ya, ini merupakan salah satu keterampilan yang diperlukan anak agar menjadi lebih bahagia dan sukses seiring pertumbuhannya.
Menurut psikolog klinis, Jazmine McCoy, bagaimanapun ledakan kemarahan yang sesekali terjadi tidak dapat dihindari dalam lingkup keluarga.
Tujuan orang tua sepatutnya bukanlah menghindari hal tersebut, tetapi mengajarkan anak kendalikan emosi.
Penting untuk membesarkan seorang anak yang tahu cara menangani amarahnya dengan cara secara tepat.
Belajar mengatur emosi secara efektif, terutama emosi yang intens seperti kemarahan dan kesedihan, dapat membantu anak-anak mengembangkan ketahanan, meningkatkan rentang perhatian, serta meningkatkan perkembangan kognitif.
“Keterampilan tersebut adalah kunci kesuksesan dan kesejahteraan anak secara keseluruhan. Bagi orang tua, cara merespons amarah anak adalah kunci untuk mengajari anak tentang menangani emosi tersebut dengan tepat,” imbuh McCoy, dikutip dari CNBC Make It.
Cara mengajarkan anak kendalikan emosi
Menurut McCoy, berikut empat langkah yang harus diterapkan sebagai cara mengajarkan anak kendalikan emosi:
  1. Buatlah batasan yang jelas
Anak-anak perlu merasa didengarkan dan dipahami, terutama oleh orang tuanya. Mereka harus tahu bahwa emosi yang intens dan negatif adalah hal yang normal dan orang tua akan membantu.
Namun menerima suatu emosi tidak berarti menerima perilaku berbahaya yang mungkin ditimbulkannya, seperti membentak atau memukul seseorang. Dalam kasus tersebut, kata McCoy, orang tua dapat dengan jelas menyatakan batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar.
Misalnya saat anak sedang marah dan mulai membentak atau berperilaku berisiko, maka Bunda dapat berkata, ‘Bunda sangat ingin mendengar apa yang kamu katakan. Tapi sulit untuk dimengerti ketika kamu terus berteriak begitu. Yuk kita tenang dulu, Nak.’
  1. Validasi emosi anak
Memberi validasi alias mengakui kemarahan anak dapat membantu mengungkapkan emosi intens yang sedang mereka rasakan. Itu adalah langkah penting untuk membantu anak mengelola perasaan tersebut tanpa bertindak berlebihan.
Hal ini bisa dilakukan dengan bertanya kepada anak apa yang membuat mereka marah dan alasannya, meskipun Bunda mungkin sudah mengetahuinya. Setelah itu, secara bersama-sama orang tua dan anak dapat membicarakan cara untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Sebagai contoh saat anak saling bertengkar berebut mainan, ajak adik bermain dengan mainan lain sambil menunggu kakak menyelesaikan mainan yang awalnya mereka inginkan.
“Saat kita mengajari anak cara berkomunikasi dengan kata-kata sederhana, maka mereka tidak perlu merasa harus berteriak dan menjadi agresif untuk mengomunikasikan apa yang mereka butuhkan,” tutur McCoy.
McCoy juga memberi saran agar orang tua menggunakan buku anak-anak dan media lain untuk memulai percakapan tentang perasaan. Manfaatkan cerita tentang emosi yang sedang dirasakan dalam karakter buku tersebut, kemudian saling bertukar pikiran tentang solusi yang mungkin dapat dilakukan.
  1. Cobalah untuk menenangkan keadaan
Cara mengajarkan anak kendalikan emosi berikutnya yakni memperkenalkan teknik napas dalam, terutama saat anak sedang kesal. Ini merupakan salah satu cara yang populer dan efektif untuk meredakan ledakan amarah.
McCoy mengatakan ada trik untuk menggunakan strategi itu secara efektif: lakukan napas dalam-dalam tersebut sendiri terlebih dahulu di hadapan anak. Beri tahu anak bahwa Bunda ingin berhenti sejenak dari percakapan ini untuk menarik napas dalam-dalam.
Tunjukkan pada mereka bagaimana hal itu menenangkan Bunda, lalu amati apakah mereka mengikutinya.
  1. Hindari menanggapi dengan kemarahan juga
Meski sulit dan rasanya mungkin ingin ikut marah, McCoy berpesan agar orang tua ingat bahwa anak masih terlalu muda untuk mengatur perasaan ‘besar’ mereka.
Membentak anak-anak dapat menimbulkan dampak negatif yang bertahan lama terhadap harga diri dan perkembangan emosi mereka. Meskipun kekesalannya mungkin tidak diungkapkan secara verbal, anak masih dapat merasakan kemarahan orang tua, yang dapat memperburuk situasi.
Demikian ulasan tentang berbagai cara mengajarkan anak kendalikan emosi. Ingatlah untuk menjauh sejenak dan tenangkan diri jika memang Bunda sudah merasa ikut frustasi menghadapi emosi anak. Semoga ulasan ini bermanfaat, ya.
(Sumber: SP.id)
By Redaksi:swaraproletar.id@merahmerdeka
Artikulli paraprakTaukah kamu  siapakah pemilik dua stasiun Tv terbesar Metro Tv dan TV One? Ini informasinya
Artikulli tjetërMengenal Profil tiga Ketua umum Partai pengusung Capres dan Cawapres R-I 2024

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini