Artis hingga Maruarar Sirait kader Partai hengkang dari PDI-P, Beralih Dukung Prabowo

0
49
Foto: Budiman Sudjatmiko (Tribunnews/ Herudin)© Disediakan oleh TribunTrends.com
Pewarta: Arie I Editor: Ct80 I Kamis 18-01-2024
BERITA-Politik
NASIONAL, Jakartaswaraproletar.id- Berikut profil para kader PDIP yang memutuskan hengkang dari parpol tersebut.
Maruarar Sirait bukanlah satu-satunya kader yang memutuskan keluar dari PDIP.
Para kader yang memilih hengkang ini menjadi pembelot PDIP dengan alasan mendukung lawan politik partai tersebut.
Beberapa tokoh memutuskan untuk berpamitan dengan partai, namun beberapa di antara ada yang dipecat oleh Ketua Umum (Ketum) PDIP, Megawati Soekarnoputri.
Baca juga: Ganjar Tak Kaget Maruarar Sirait Keluar dari PDIP, Sudah Lihat Tandanya: Berada di Kelompok Sebelah
Hal itu pun menjadi dinamikan politik tersendiri menuju kontestasi Pemilu 2024.
Berikut sejumlah kader PDIP yang hengkang dari partai selama tahun 2023, dirangkum dari sejumlah pemberitaan:
  1. Eva Kusuma Sundari
Eva Kusuma Sundari keluar dari PDI Perjuangan.
Dia menjadi bakal calon legislatif (bacaleg) Partai Nasdem untuk Pemilu 2024.
Hal ini dibenarkan oleh Ketua DPP Partai Nasdem Willy Aditya usai menyerahkan berkas pendaftaran bacaleg ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, Jakarta, Kamis (11/5/2023).
“Eva Sundari masuk (bacaleg Nasdem),” kata Willy kepada wartawan.
Willy hanya membenarkan informasi tentang Eva Sundari sampai situ.
Sempat dikonfirmasi hal ini langsung kepada Eva Kusuma Sundari, namun ia enggan memberikan komentar.
Eva Kusuma Sundari adalah politikus sekaligus pengajar di sebuah universitas di Indonesia.
Lahir di Nganjuk pada 8 Oktober 1965.
Eva Kusuma Sundari dikenal sebagai anggota yang kritis.
Kedua orangtua Eva Kusuma Sundari merupakan aktivis Partai Golkar.
Namun Eva Kusuma Sundari lebih memilih untuk bergabung bersama PDI Perjuangan
Eva Kusuma Sundari lulusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi di Universitas Airlangga.
Kemudian Eva Kusuma Sundari juga melanjutkan kuliahnya di Institut of Social Studies, The Hague Belanda.
Setelah itu, kembali ke dunia pendidikan dan berkuliah di University of Nottingham, Inggris.
Selain itu Eva Kusuma Sundari juga kerap mengikuti pelatihan terkait isu perempuan dan anggaran.
Pada tahun 2008, Eva Kusuma Sundari mengikuti pelatihan Public Account Committee, Effective Budget Scrutiny dan Public Finance Management.
Tahun 2007, Eva Kusuma Sundari juga mengikuti pelatihan Global Woman Leadership di Washington.
Karier
Sepulangnya dari menyelesaikan pendidikan di luar negeri.
Eva Kusuma Sundari memulai karier politik.
Awalnya, Eva Kusuma Sundari menjadi aktivis lembaga swadya masyarakat, Asia Foundation pada tahun 2003.
Kemudian tahun 2005, Eva Kusuma Sundari menjadi anggota dari Steering Committee untuk Forum Indonesia, Transparansi Anggaran.
Pada tahun yang sama, Eva Kusuma Sundari bergabung menjadi kader PDI Perjuangan.
Selain itu, Eva Kusuma Sundari juga mencalonkan diri menjadi calon legeslatif pada Pemilu Legeslatif 2004.
Akhirnya, Eva Kusuma Sundari terpilih menjadi anggota DPR RI periode 2004-2009.
Pada periode tersebut, Eva Kusuma Sundari ditugaskan di Komisi III.
Saat Pileg 2014, Eva Kusuma Sundari kembali mencalonkan untuk ketiga kalinya menjadi anggota DPR RI.
Namun saat itu Eva Kusuma Sundari gagal.
Hingga pada tahun 2015, Eva Kusuma Sundari ditunjuk menjadi Staf Khusus Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kepala Bappenas.
Eva Kusuma Sundari dilantik oleh Presiden Joko Widodo menjadi anggota DPR RI pada 11 Januari 2016.
Pada masa kerja 2014-2019, Eva Kusuma Sundari membidangi urusan luar negeri, pertahanan, komunikasi dan informatika.
Kemudian, Eva Kusuma Sundari tak lolos di Pemilu Serentak pada tahun 2019.
Perjalanan Organisasi
Berikut riwayat perjalanan organisasi Eva Kusuma Sundari.
Steering Commite AIPMC (2005)
Steering Commite FITRA (2005)
Pendiri Aliansi Perwakilan Perempuan Dalam Politik (2004)
Wakil Ketua PUSHAM (2002)
Anggota Koalisi Perempuan Indonesia (1998)
Anggota Asosiasi Ekonom Indonesia (1992)
Foto: Budiman Sudjatmiko (Tribunnews/ Herudin)© Disediakan oleh TribunTrends.com
  1. Budiman Sudjatmiko
Budiman Sudjatmiko dipecat dari PDIP lantaran mendukung Prabowo sebagai Capres 2024.
Surat pemecatan itu diterima Budiman pada Kamis (24/8/2023) lalu.
“Sudah, sudah (menerima). Iya benar (pemecatan),” kata Budiman saat dihubungi Kompas.com, Kamis malam.
Budiman menjelaskan bahwa surat itu ditandatangani oleh Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri dan Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto.
Mantan aktivis Pro Demokrasi itu tidak berkomentar panjang terkait surat pemecatan yang diterimanya.
Ia hanya mengatakan bahwa surat itu menjadi penanda salah satu episode hidupnya sebagai manusia politik.
Budiman Sudjatmiko lahir di Cilacap, 10 Maret 1970.
Ia dikenal sebagai seorang politisi dan mantan anggota DPR RI dari PDI Perjuangan.
Mengenai pendidikannnya, Budiman sewaktu kecil menempuh pendidikan dasar di SD Negeri Pengadilan 2 Bogor.
Lalu, ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMP Negeri 1 Cilacap dan lulus tahun 1986.
Budiman pun melanjutkan di SMA Negeri 5 Bogor dan SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, lulus tahun 1989.
Berdasarkan penelusuran Tribunnews.com, Budiman menempuh pendidikan sekolah tinggi di Universitas Gajah Mada.
Tak selesai kuliah di UGM karena sesuatu hal, lalu Budiman melanjutkan pendidikan Ilmu Politik di Universitas London dan Master Hubungan Internasional di Universitas Cambridge, Inggris.
Perjalanan Karier Budiman
Budiman mengawali kariernya sebagai seorang aktivis.
Ketika duduk di bangku kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Budiman Sudjatmiko pernah terlibat dalam gerakan mahasiswa.
Budiman terjun sebagai community organizer yang melakukan proses pemberdayaan politik, organisasi dan ekonomi.
Pada tahun 1996, Budiman mendeklarasikan Partai Rakyat Demokrasi (PRD) Partai Rakyat Demokratik.
Buntut pembentukan partai tersebut, Budiman Sudjatmiko dipenjara oleh pemerintah Orde Baru dan divonis 13 tahun penjara.
Partai Rakyat Demokratik dianggap menjadi dalang yang memicu kerusuhan di Jakarta pada 27 Juli 1996.
Setelah bebas, Budiman Sudjatmiko menempuh studi di bidang Ilmu Politik di Universitas London.
Budiman Sudjatmiko pun melanjutkan kuliah masternya di Universitas Cambridge.
Bergabung ke PDIP
Setelah kuliah di Universitas Cambridge, Budiman kembali ke Indonesia.
Lantas, Budiman Sudjatmiko bergabung dengan PDI Perjuangan.
Budiman Sudjatmiko juga membentuk organisasi REPDEM (Relawan Perjuangan Demokrasi).
Pada tahun 2009, Budiman Sudjatmiko terpilih sebagai anggota DPR RI dengan dapil Jawa Tengah.
Kemudian, Budiman Sudjatmiko kembali terpilih sebagai anggota DPR RI periode 2014-2019.
Saat itu, Budiman juga didapuk sebagai Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin.
Sepanjang berkarier, Budiman diketahui juga pernah menulis buku.
Ia menelurkan karya sebuah buku berjudul Anak-anak Revolusi (2012).
Dukung Prabowo Subianto sebagai Capres 2024
Budiman Sudjatmiko telah mendeklarasikan diri bersama relawan Prabowo Budiman Bersatu (Prabu) di Marina Convention Center, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (18/8/2023).
Budiman menyuarakan dukungannya untuk Prabowo saat masih menyandang status kader PDI Perjuangan.
Di mana saat ini PDIP telah mengusung Ganjar Pranowo sebagai calon presiden (Capres) 2024.
Meski begitu, Budiman mengaku siap menerima sanksi dari PDIP.
“Jangan berandai-andai terkait sanksi. Ini situasi dinamis, saya pikir kalaupun ini berisiko, saya tidak akan lari dari tanggung jawab,” katanya, Jumat (18/8/2023), dilansir TribunJateng.com.
Budiman menyebut, jika dukungannya kepada Prabowo dianggap suatu kekeliruan, maka dirinya akan bertanggung jawab 100 persen.
Menurutnya, ia tak membawa nama partai dan tak bermaksud meminta jabatan ataupun uang dalam deklarasi tersebut.
Lebih lanjut, Budiman menjelaskan, Deklarasi Prabu ini merupakan gerakan dari lintas partai dan golongan.
Deklarasi tersebut, dikatakan Budiman, murni gerakan dukungan tanpa membawa nama partai.
  1. Kirana Larasati
Artis Kirana Larasari Hanafiah mengumumkan pengundurkan diri dari PDIP tepat di Hari Ulang Tahun (HUT) ke -78 Kemerdekaan RI, Kamis (17/8/2023).
Kabar ini dibagikan Kirana Larasati melalui akun Instagram pribadinya.
Dia mengunggah video yang berisi pernyataan pengunduran diri tersebut.
“Di Hari Kemerdekaan negara Indonesia yang saya cintai ini, saya, Kirana Larasati ingin menyampaikan bahwa saya telah mengundurkan diri dari partai tempat saya bernaung selama ini, PDI Perjuangan,” kata Kirana.
Kini di Pilpres 2024, Kirana mendukung Prabowo Subianto.
Kirana Larasati Hanafiah yang lebih dikenal dengan Kirana Larasati adalah seorang artis peran asal Indonesia. Ia telah memulai kariernya di dunia hiburan sejak tahun 2002.
Ia mengawali kariernya dengan membintangi sinetron yang berjudul Satu Bintang (2002), dan dilanjutkan sinetron berjudul Senandung Masa Puber (2003-2004).
Setelah itu ia kerap tampil di sejumlah sinetron di layar kaca. Hingga akhirnya namanya mulai populer ketika ia membintangi sinetron yang berjudul Azizah (2007) yang kala itu tayang di SCTV.
Kariernya pun semakin menanjak, tidak hanya tampil di layar kaca ia juga membintangi beberapa film di Tanah Air seperti Kota Tua Jakarta (2014), Nenek Siam (2015), Rumput Tetangga (2019) dan lainnya.
Sepanjang perjalanan kariernya hingga saat ini, ia telah membintangi 11 film, 19 FTV, dan 30 sinetron.
Berkat peran-peran itulah yang mengantarkan wanitak kelahiran 29 Agustus 1987 ini berhasil menyabet penghargaan sebagai Pemeran Utama Wanita Terpuji di ajang Festival Film Bandung 2008.
Kirana juga kerap didapuk menjadi bintang iklan di sejumlah produk seperti Vitacimin (2002), Fujifilm (2006), Telkom Flexi (2008), dan lainnya.
Tidak hanya aktif di dunia hiburan, di tahun 2012 Kirana Larasati pernah menyandang gelar sebagai Duta Anti-Narkoba.
Kirana Larasati juga pernah mengikuti Pemilu Legislatif 2019 dari PDI Perjuangan.
  1. Maruarar Sirait
Terbaru ada nama Maruarar Sirait yang memutuskan hengkang dari PDIP.
Maruarar memutuskan hengkang dari PDIP lantaran ingin mengikuti langkah politik Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Setelah memutuskan hengkang dari PDIP, Ara mengucapkan terima kasih kepada Megawati Soekarnoputri dan Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, karena telah mengizinkannya berbakti melalui PDIP.
“Saya memilih untuk mengikuti langkah Pak Jokowi,” kata Ara, Senin (15/1/2024).
Ia menyebut, saat ini angka kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Jokowi mencapai 75-80 persen.
“Karena saya percaya Pak Jokowi adalah pemimpin yang sangat didukung oleh rakyat Indonesia, kepercayaan publiknya, approval rating-nya 75-80 persen,” ujar Ara.
Maruarar Sirait biasa disapa Bang Ara merupakan politikus yang lahir di Medan pada 23 Desember 1969.
Ia merupakan anak dari pasangan Suami Istri Sabam Sirait dan Sondang Boru Sidabutar.
Ayah Ara, yakni Sabam Sirait merupakan seorang politikus senior yang telah berpolitik selama tujuh masa presiden Indonesia.
Foto: Maruarar Sirait mundur dari PDI Perjuangan, partainya Megawati Soekarnoputri, penyebab mundurnya anak pendiri PDI itu hingga kini masih misterius. (Tribunnews/ Fersianus Waku) © Disediakan oleh TribunTrends.com
Tercatat, pernah menjadi Sekjen PDI Perjuangan selama 13 tahun, anggota DPR RI selama tujuh periode, serta anggota DPA RI selama dua periode.
Sabam Sirait juga pernah menjabat sebagai anggota DPD RI.
Maruarar Sirait menikah dengan Shinta Triastuti dan dikaruniai dua orang anak.
Maruarar Sirait yang lahir di Medan ini ternyata besar di Jakarta.
Ia menghabiskan masa sekolah sejak SD sampai SMA di Jakarta.
Riwayat Pendidikan:
SD PKSD VI Jakarta sejak 1982 sampai 1985
SMPK Ora Et Labora dan lulus pada 1988
SMA Negeri 7 Jakarta hingga lulus pada 1991
S1 Ilmu Politik di FISIP Universitas Parahyangan dan lulus pada 1996
Semasa kuliah, Ara dikenal sebagai mahasiswa yang aktif berorganisasi.
Ia aktif di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan mengasah kemampuan berpolitiknya di sana.
Ara juga aktif sebagai anggota Resimen Mahasiswa (Menwa) Unpar.
Tak hanya itu,  Ara sempat didaulat menjadi Manajer Kooperasi Keluarga Besar Mahasiswa (KKBM) Unpar.
Aktivitasnya di berbagai organisasi mahasiswa itulah yang membuatnya tertarik untuk masuk ke dunia politik.
Terlebih, ayahnya juga seorang politikus ulung dari PDIP
Kemudian, pada 1999, Ara membulatkan tekad untuk bergabung bersama PDIP mengikuti jejak sang ayah.
Sebagai kader partai, Maruarar Sirait terkenal sebagai seorang yang kritis.
Berikut beberapa jabatan strategisnya di PDIP:
Wakil Bendahara DPD PDI Perjuangan Jawa Barat
Bendahara DPD PDI Perjuangan Jawa Barat
Ketua Bidang PURA DPD PDI Perjuangan
Ketua DPP PDI Perjuangan
Pada 2004, Ara maju sebagai calon anggota DPR RI melalui partai bergambar banteng itu.
Ia kemudian dipercaya menjadi anggota Komisi XI DPR RI Bidang Keuangan, Perencanaan, dan Perbankan hingga 2009.
Periode berikutnya, ia kembali maju sebagai caleg DPR RI dan berhasil lolos ke senayan untuk periode 2009 – 2014 dan 2014 – 2019.
Pada 2019, Ara sempat mengeluarkan pernyataan tidak akan maju sebagai calon anggota legislatif karena PDIP perli kader-kader yang lebih muda untuk regenerasi.
Pasalnya, Ara sudah menjadi anggota DPR selama tiga periode.
Namun, pada akhirnya Ara kembali mencalonkan diri untuk daerah pemilihan Jawa Barat III yang meliputi Cianjur dan Bogor.
Sayangnya, ia gagal lolos ke Senayan karena suaranya kalah dari caleg satu partai, Rieke Diah Pitaloka.
Meski tidak lolos, Ara mengungkapkan dirinya ikhlas dan tetap legowo.
Selain aktif sebagai anggota legislatif, Ara juga sempat ditunjuk menjadi Steering Committee (SC) Piala Presiden tahun 2016, 2017, dan 2018.
Sebagai informasi, di era pemerintahan Presiden Jokowi, Ara mendukung RUU Pengampunan Pajak atau Tax Amnesty dengan berbagai catatan.
(Sumber: TribunNews)
By Redaksi:swaraproletar.id@merahmerdeka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here