Teman Makan Teman, Netanyahu Gasak Biden dan Salahkan AS Saat Israel Gagal Lawan Hamas di Gaza

0
33
Foto: Natanyahu / Perdana Menteri Israel (dok: SP.id ), Jum’at (08/12)
Pewarta: Ricka I Editor: Ct80
PROLETARNEWS
ISRAEL-Telavivswaraproletar.idSeorang mantan diplomat Israel mengatakan kalau Amerika Serikat (AS) dan dan Israel punya arah dan tujuan berbeda terkait perang yang terjadi di Gaza melawan milisi pembebasan Palestina, Hamas.
mantan Konsul Jenderal Israel di New York, Alon Pinkas menganalisis Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu bakal ‘makan teman’ dengan menggasak Joe Biden lewat narasi yang disiapkan kalau Israel gagal membasmi Hamas dalam perang Gaza.
Caranya, kata Pinkas, Netanyahu berupaya melakukan konfrontasi dengan Biden dalam sejumlah hal taktis dan teknis dalam agresi militer Israel di Gaza.
“Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan sengaja mengabaikan saran dari Presiden AS Joe Biden dan berusaha menciptakan konfrontasi dengannya mengenai perang di Gaza, kata Pinkas dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh surat kabar Israel, Haaretz.
Pinkas menilai, Netanyahu mengabaikan nasihat AS, menentang permintaan AS, dan membual kalau “dia berdiri bersama (rencana) Amerika”.
“Sehingga dia (Netanyahu) dapat menyalahkan Presiden Biden karena “dapat larangan” dan membuat kesempatan Israel untuk memberantas Hamas, hilang,” kata Pinkas dengan mengasumsikan sejauh ini tentara Israel masih jauh dari kata berhasil dalam tujuannya memberangus Hamas.
Menurut Pinkas, Netanyahu membuat konfrontasi (melakukan hal yang bertentangan) dengan AS dan Biden, semata-mata karena alasan politik.
“Untuk tetap berkuasa, ia (Netanyahu) mempromosikan narasi palsu yang mengabaikan kesalahan dan tanggung jawabnya atas peristiwa 7 Oktober,” kata Pinkas.
Sebagai informasi, sejumlah jejak pendapat menunjukkan turunnya kredibilitas pemerintahan Netanyahu karena dianggap gagal melindungi keamanan nasional atas serangan Banjir Al-Aqsa yang dilakukan Hamas.
Foto: Warga Palestina memeriksa kerusakan di sebuah bangunan tempat tinggal di Rafah di Jalur Gaza selatan setelah serangan udara Israel pada awal 4 Desember 2023. (MOHAMMED ABED / AFP) © Disediakan oleh tribunnews.com
Atas asumsi itu, kata Pinkas, Netanyahu kini berfokus pada perang sehingga dia dapat mengklaim kalau Israel “berada di jurang kemenangan besar sampai Biden mencegahnya menyelesaikan misi tersebut,” kata Pinkas.
Mantan diplomat Israel itu juga menyatakan, setelah dua bulan perang, kini terlihat jelas bahwa kebijakan Netanyahu dan kebijakan Biden tidak sejalan.
Para pejabat AS telah secara terbuka meminta Israel untuk membunuh lebih sedikit warga Palestina selama operasi militernya di Gaza, yang sejauh ini telah menewaskan sekitar 16.000 warga Palestina, yang sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.
Ribuan lainnya masih belum ditemukan di bawah reruntuhan rumah dan gedung apartemen yang hancur.
Para pejabat AS terus menyediakan ribuan peluru artileri dan bom untuk digunakan Israel, namun beberapa pihak berspekulasi bahwa kesabaran mereka terhadap Israel semakin menipis karena Israel terus melanjutkan kampanye pemboman brutalnya.
Biden Bakal Balik Menggebrak Meja Netanyahu
Pada Sabtu pekan lalu, saat berbicara di Dubai, Wakil Presiden AS Kamala Harris menegaskan tujuan AS terhadap situasi perang Gaza saat ini.
“Tidak ada perubahan pada wilayah dan perbatasan Gaza; tidak ada pemindahan paksa warga Palestina; tidak ada pendudukan kembali Israel di Jalur Gaza; tidak ada pengepungan terhadap warga Palestina di Gaza; tidak menggunakan Gaza sebagai platform terorisme; memperkuat Otoritas Palestina sehingga pada waktunya mereka dapat memperluas pemerintahannya hingga ke Gaza dan memikul tanggung jawab keamanan,” tegas Harris menggarisbawahi batasan-batasan Israel dalam melakukan agresi militer melawan Hamas.
“Sejujurnya, skala penderitaan warga sipil, serta gambar dan video yang berasal dari Gaza, sangat menyedihkan. … Kami ingin melihat persatuan Gaza dan Tepi Barat di bawah Otoritas Palestina (PA),” kata Harris.
Sebaliknya, Netanyahu secara terbuka mengatakan kalau Israel bermaksud menciptakan “zona penyangga” di dalam Gaza; bahwa Israel akan melanjutkan operasi militer di Gaza selatan sampai Hamas “digulingkan”.
Netanyahu juga menegaskan, Otoritas Palestina tidak akan memiliki tanggung jawab pemerintahan di Gaza, yang berarti menggaungkan niat Israel mengambil kendali dan kontrol penuh atas Gaza.
Foto: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pernyataan di kota pesisir Israel Tel Aviv, pada 14 Juni 2014. (JACK GUEZ / AFP) © Disediakan oleh tribunnews.com
Netanyahu juga menyatakan Israel akan secara signifikan mengurangi jumlah bantuan kemanusiaan yang diizinkan masuk ke Gaza, meskipun telah ada janji sebelumnya.
“Meskipun Biden memiliki tujuan yang sama untuk menggulingkan Hamas, kebijakan Netanyahu merugikan peluang Biden untuk terpilih kembali,” kata Pinkas.
Banyak anggota partai Demokrat yang dipimpin Biden mulai memandang sang presiden terlibat dalam penargetan bombardemen Israel terhadap warga sipil Palestina.
Oleh karena itu Pinkas memperkirakan kalau Presiden Biden dan pejabat AS lainnya segera ‘menggebrak meja’ Netanyahu agar patuh atau mundur sekalian.
“Seperti yang ditunjukkan oleh pengalaman dan sejarah para pendahulunya, ketika seorang presiden Amerika menghadapi sekutunya, termasuk Israel, dan menjelaskannya dalam konteks membela kepentingan AS, publik Amerika mendukungnya (presiden). (Dengan begitu) Biden tidak akan kehilangan satu suara atau satu dolar kontribusi kampanyenya jika dia meminta Netanyahu ‘mundur’,” kata Pinkas..
(Sumber: TribunNews.com)
By Redaksi:swaraproletar.id@merahmerdeka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here