Ketahui Syarat, Macam, Bentuk, Serta Perbedaan Mahar dan Mas Kawin

0
113
Foto: Ilustrasi mas kawin pernikahan ), Jum’at (08/12)
Penulis: Rosyda Nur Fauziyah
BERITAISLAM
REFERENSI PERNIKAHANswaraproletar.idMahar atau mas kawin merupakan suatu pemberian yang dilakukan oleh pihak mempelai laki-laki kepada pihak mempelai perempuan, hal ini mempunyai hukum yang wajib. Dalam pemberian mahar merupakan hal yang bermanfaat karena adanya ikatan perkawinan. Selain itu, jenis maharnya juga tidak ditetapkan, hanya saja kedua belah pihak dianjurkan untuk melakukan musyawarah untuk menyepakati mahar yang akan diberikan.
Syarat-Syarat Mahar
Dalam pemberian mahar, calon pasangan dari pihak laki-laki harus memperhatikan hal-hal berikut ini. Berikut ini syarat-syarat mahar yang perlu diketahui.
  1. Harta atau benda berharga
Meskipun tidak ada ketentuan banyak atau sedikitnya mahar, apabila tidak berharga maka tidak akan sah. Namun, ketika jumlah mahar sedikit akan tetap bernilai sah.
  1. Barangnya suci dan bermanfaat
Barang yang dijadikan mahar harus bermanfaat dan juga suci.
  1. Bukan barang ghasab
Ghasab mengambil barang milik orang lain tanpa izin kepada pemiliknya. Akan tetapi, tidak ada maksud untuk memilikinya karena berniat akan dikembalikan. Jadi, memberikan mahar dengan barang ghasab tidak sah, tetapi akadnya tetap sah.
  1. Bukan barang yang tidak jelas keadaannya
Tidak sah mahar apabila memberikan barang yang tidak jelas keadaannya atau tidak disebutkan jenis barangnya. Jadi, mahar yang diberikan harus benda yang berharga, suci bahkan bukan barang rampasan.
  1. Kadar Jumlah Mahar
Dalam Islam, besar kecilnya mahar yang diberikan kepada calon istri disesuaikan dengan kemampuan calon suami.  Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan antara sesama manusia. Untuk batas ukuran mahar dapat disesuaikan dengan kesepakatan bersama antara calon pengantin laki-laki dan calon pengantin perempuan. Mahar juga tidak dianjurkan terlalu tinggi maupun terlalu sedikit, sehingga semampunya dan kesepakatan bersama.
Lalu, yang terpenting dari mahar adalah sesuatu yang dapat diambil manfaatnya, baik berupa uang maupun sebentuk cincin yang sangat sederhana sekalipun atau bahkan pengajaran tentang Al-Qur’an, sepanjang telah disepakati bersama antara kedua belah pihak laki-laki dan perempuan.
Mahar sebagai suatu kewajiban yang diberikan dari calon pengantin laki-laki terhadap calon pengantin perempuan walaupun tidak dijelaskan bentuk dan nilainya pada waktu akad. Mahar itu sendiri terbagi menjadi dua macam, antara lain:
  1. Mahar Musamma
Mahar musamma merupakan mahar yang disepakati oleh pengantin laki-laki dan perempuan yang disebutkan  dalam redaksi akad. Para ulama juga sepakat bahwa tidak ada jumlah maksimal dalam mahar tersebut. Adapun pernyataan diatas menjelaskan sebagai berikut:
  • Mahar menurut Syafi’i, Hambali, Imamiyah ialah bahwa segala sesuatu yang dapat dijadikan harga dalam jual beli boleh dijadikan mahar dan tidak ada batasan minimal dalam mahar.
  • Hanafi jumlah minimal mahar adalah sepuluh dirham. Apabila suatu akad dilakukan dengan mahar kurang dari itu maka akad tetap sah dan wajib membayar mahar sepuluh dirham.
  • Menurut Maliki jumlah minimal mahar adalah tiga dirham, apabila akad dilakukan kurang dari jumlah mahar tersebut, kemudian terjadi pencampuran maka suami harus membayar tiga dirham.
  1. Mahar mitsil
Mahar mitsil adalah mahar yang jumlahnya ditetapkan menurut jumlah yang biasa diterima oleh keluarga pihak istri, karena pada waktu akad nikah jumlah mahar belum ditetapkan bentuknya. Dalam mahar mitsil diwajibkan dalam tiga kemungkinan, antara lain:
  • Dalam keadaan suami tidak menyebutkan sama sekali mahar atau jumlahnya ketika berlangsungnya akad nikah.
  • Suami menyebutkan mahar musamma dan mahar tersebut tidak memenuhi syarat yang ditentukan atau mahar tersebut cacat seperti mahar dengan minuman keras.
  • Suami menyebutkan mahar musamma namun kemudian suami istri berselisih dalam jumlah atau sifat mahar tersebut dan tidak dapat terselesaikan.
  • Untuk menemukan jumlah serta bentuk mahar mitsil tidak ada ukuran yang pasti, tetapi biasanya disesuaikan dengan kedudukan istri di tengah-tengah masyarakat atau grameds dapat juga menyesuaikan dengan perempuan yang sederajat atau dengan saudaranya sendiri.
Sifat-Sifat Mahar atau Mas Kawin
Mahar mempunyai sifat-sifat tertentu, di antaranya sebagai berikut:
  1. Jelas dan diketahui bentuk serta sifatnya.
  2. Barang tersebut milik sendiri secara kepemilikan.
  3. Barang tersebut memenuhi syarat untuk diperjualbelikan, artinya yang tidak boleh diperjualbelikan dalam Islam tidak boleh dijadikan sebagai mahar seperti babi, bangkai dan minuman keras.
  4. Dapat diserahkan pada waktu akad atau waktu yang sudah dijanjikan, artinya barang yang tidak dapat diserahkan pada waktu nya tidak dapat dijadikan mahar seperti burung yang terbang di udara.
 
Gugurnya Mahar atau Mas Kawin
Menurut Mazhab Hanafi, semua mahar jauh dari suami dengan salah satu dari empat sebab berikut ini:
  1. Perpisahan yang bukan karena perceraian: Semua perpisahan yang terjadi selain perceraian sebelum terjadinya persetubuhan dan khalwat menyebabkan semua mahar gugur, baik adanya perpisahan tersebut ditimbulkan oleh pihak laki-laki maupun perempuan. Misalnya seperti seorang perempuan memilih membatalkan perkawinan akibat adanya cacat pada suaminya.
  2. Khulu’ terhadap mahar sebelum terjadinya persetubuhan atau setelahnya: Apabila seorang laki-laki meng- khulu’ istrinya dengan ‘iwad maharnya, maka gugur semua maharnya. Apabila maharnya tidak diterima, mahar ini gugur dari suami. Jika mahar ini sudah diterima, maka harus dikembalikan pada suami.
  3. Pembebasan dari semua mahar sebelum terjadinya persetubuhan atau setelahnya: Mahar akan menjadi gugur apabila adanya pembebasan jika di perempuan merupakan orang yang mampu memberikan sumbangan dan mahar merupakan utang dalam tanggungan suami. Artinya, uang dan semua jenis takaran dan timbangan.
  4. Tidak ditentukan yang dimaksud dengan zatnya karena pembebasan adalah pengguguran, dan pengguguran dapat dilakukan oleh orang yang mampu melakukannya pada sesuatu yang bisa untuk digugurkan.
  5. Istri menghibahkan semua mahar untuk suami: Apabila istri merupakan orang yang mampu untuk melakukan sumbangan, maka si suami menerima hibah dari istrinya di dalam majelis, baik hibah tersebut dilakukan sebelum mahar diterima maupun setelahnya.
Hikmah dari mahar yaitu menunjukkan pentingnya dan posisi saat akad serta untuk menghormati dan memuliakan perempuan. Adapun hikmah mahar lainnya, antara lain:
  1. Menunjukkan kemuliaan terhadap perempuan, karena perempuan yang dicari oleh laki-laki bukan laki-laki yang dicari perempuan. Laki-laki akan berusaha untuk mendapatkan perempuan meskipun dengan mengorbankan harta-hartanya.
  2. Bentuk kasih sayang dan juga cinta kepada istrinya. Dengan begitu, keharmonisan dalam berkeluarga bisa terus tercipta.
  3. Menunjukkan kesungguhan, karena menikah dan berumah tangga bukan soal main-main dan perkara yang dapat dipermainkan kapan saja.
  4. Menunjukkan tanggung jawab suami dalam kehidupan rumah tangga dengan memberikan nafkah, karena laki-laki merupakan pemimpin atas perempuan di dalam kehidupan rumah tangganya.
  5. Untuk mendapatkan hak itu wajar suami harus mengeluarkan hartanya sehingga ia harus bertanggung jawab dan tidak sewenang-wenang terhadap istrinya.
Perbedaan Mahar dan Mas Kawin
Ketika grameds akan melangsungkan pernikahan maka ada satu syarat yang harus dipenuhi, yaitu mahar atau mas kawin. Namun apakah ada perbedaan diantara keduanya? Jawabannya adalah tidak ada. Dengan kata lain, mahar pernikahan sama dengan mas kawin.
Secara etimologi,  mahar atau mas kawin merupakan pemberian wajib dari calon suami kepada istri sebagai suatu ketulusan hati calon suami untuk menghadirkan rasa cinta kasih bagi seorang istri kepada calon suaminya. Selain itu, biasa disebut sebagai suatu pemberian yang diwajibkan calon suami kepada calon istri yang berbentuk benda maupun jasa.
Mahar sendiri berasal dari bahasa Arab, dengan melalui 6 kata seperti nihlah, shadaq, ‘alaiq, hibah dan faridhah. Mahar juga dapat diartikan sebagai harta yang dikeluarkan oleh suami untuk diberikan kepada istri dalam akad nikah.
Mahar ini hanya diberikan dari calon suami kepada calon istri, bukan kepada wanita lain atau siapapun meskipun sangat dekat dengannya. Selain itu, orang lain juga tidak boleh mengambilnya, bahkan suami sendiri pun tidak boleh mengambil kecuali atas izin istrinya. Namun, apabila dibolehkan istrinya tidak ada halangan baginya untuk memakainya.
Dalam suatu pernikahan, apabila tanpa mahar berarti pernikahan tersebut tidak sah meskipun pihak perempuan telah ridha untuk tidak mendapatkan mahar dari pihak laki-laki. Namun, perlu digarisbawahi bahwa mahar atau mas kawin juga hak mutlak seorang istri.
Suami tidak mempunyai hak untuk menguasai bahkan mencoba untuk memintanya. Sama halnya dengan orang tua istri, mereka juga tidak berhak memintanya kecuali atas izin ridho istri.
Namun, sebaiknya mahar yang akan diberikan tidak terlalu sulit untuk dipenuhi, bermanfaat, dan juga suci, sehingga pernikahan juga akan berkah. Berkah dunia akhirat baik kaya maupun miskin. Jadi, tidak ada perbedaan ya grameds antara mahar dan mas kawin dalam Islam karena keduanya sama saja.
Hal yang Harus Diperhatikan Tentang Mahar atau Mas Kawin
Dikarenakan tidak adanya perbedaan antara mahar dan mas kawin, maka berikut ini ada hal-hal yang harus diperhatikan mengenai mahar maupun mas kawin.
Mas kawin merupakan hak pribadi istri
Mahar atau mas kawin jangan digunakan sebagai ajang untuk memperbanyak harta keluarga ya grameds. Karena mas kawin sudah mutlak menjadi milik mempelai perempuan. Oleh sebab itu, bagi pihak keluarga, sebaiknya jangan terlalu ikut campur terlalu dalam. pihak keluarga sebaiknya tidak ikut-ikutan jumlah besaran mahar atau mas kawin.
Dalam hukum Islam di Indonesia mengatur apabila adanya perbedaan antara mahar dengan mas kawin berdasarkan kesepakatan kedua mempelai. Akan tetapi, prinsip tentang kesederhanaan ini tetap mengedepankan kebaikan bersama bagi kedua belah pihak.
Jangan terlalu mahal dan jangan terlalu murah
Meskipun tidak ada perbedaan antara mahar dan mas kawin secara Islam, tetapi dalam memberikan mahar atau mas kawin dianjurkan tidak terlalu mahal dan tidak terlalu murah. Selain itu, tidak ada standar ideal dalam memberikan mahar atau mas kawin.
Mas kawin bukan suatu bingkisan
Kebiasaan masyarakat muslim Indonesia, menjadikan mahar dalam bentuk bingkisan uang yang di desain sedemikian rupa dalam bentuk motif dan indah dan hal ini merupakan salah satu kreativitas yang baik. Akan tetapi, perlu juga di pertimbangkan kelayakannya. Di sisi lain, biasanya jumlah uang disesuaikan dengan tanggal, bulan hingga tahun akad nikah. Sah-sah saja kebiasaan ini apabila dilakukan, asalkan masih menjaga esensi mahar itu sendiri.
Suami meminjam uang yang bersumber dari mahar, bukan termasuk utang mahar
Biasanya, dalam menjalani kehidupan rumah tangga, suami sering meminjam uang dari istri atau meminjam uang barang berharga yang dulu sebagai mahar bagi istri. Di saat terjadi perceraian, suami akan dituntut untuk mengembalikan utang mahar oleh sang istri.
Hal ini merupakan asumsi yang keliru. Utang mahar maksudnya adalah mahar yang sudah disebutkan dalam akad nikah, tetapi belum pernah dibayar oleh suami. Ketika sudah diberikan saat ijab Kabul, maka saat itu juga mahar tersebut menjadi hak pribadi. Tidak lagi disebut dnegan mahar. Meskipun nantinya dipinjam oleh suami, hukumnya akan tetap utang piutang biasa. Bukan utang mahar atau mahar berutang.
(Sumber: SP.id)
By Redaksi:swaraproletar.id@merahmerdeka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here