Hal krusial Pendidikan Kesehatan Jiwa untuk anak di Sekolah

0
129
Foto: Siswa SMPN 8 Tangsel sedang mengikuti olahraga di luar kelas (KOMPAS.com/ANNISA RAMADANI SIREGAR), Kamis (07/12)
Pewarta: Arie I Editor: Ct80
BERITA-NASIONAL
Indonesia-Kesehatanswaraproletar.id Tidak hanya menyangkut kesehatan jasmani saja, siswa juga harus sehat jiwanya. Atau, kesehatan jiwa merupakan hal yang sangat penting diperhatikan. Untuk itulah upaya peningkatan kesehatan jiwa di sekolah juga terintegrasi dalam manajemen di usaha kesehatan sekolah (UKS) melalui pendidikan kesehatan jiwa.
Adapun tujuannya agar peserta didik atau siswa mampu menghadapi tantangan hidup dan memiliki daya tangkal terhadap pengaruh buruk dari luar.
Selain ditujukan bagi siswa, pendidikan kesehatan jiwa juga ditujukan kepada pendidik dan tenaga kependidikan. Tentu agar pendidik dan tenaga kependidikan mampu memahami perkembangan jiwa siswa sesuai kelompok usia anak yang dikaitkan dengan perkembangan fisik.
Terkait hal itu, maka satuan pendidikan hendaknya memberikan layanan kesehatan jiwa di sekolah. Melansir laman Direktorat SMP Kemendikbud Ristek, Kamis (30/6/2022), jenis pelayanan kesehatan jiwa yang dapat diberikan sekolah yakni:
  1. Peningkatan kesehatan jiwa (promotif) Informasi mengenai pentingnya kesehatan jiwa harus terus menerus disebarluaskan agar warga sekolah khususnya peserta didik dengan sadar berupaya meningkatkan kesehatan jiwa.
Kegiatan yang mendorong peningkatan kesehatan jiwa antara lain penyuluhan kesehatan termasuk penyuluhan masalah emosi, perilaku, dan latihan keterampilan sosial.
  1. Upaya pencegahan (preventif) Adapun deteksi dini juga tidak kalah penting dilakukan kepada seluruh peserta didik dengan cepat dan bersifat massal. Dengan melakukan deteksi dini kondisi kejiwaan peserta didik, maka pihak sekolah dapat menentukan treatment apa yang hendak diberikan sesuai kondisi psikis peserta didik.
  2. Pemulihan masalah kesehatan jiwa Sedangkan untuk mencegah terjadinya permasalahan kesehatan jiwa peserta didik, maka satuan pendidikan dapat memberikan Intervensi dini. Yakni berupa psikoedukasi dan konseling oleh guru dan konselor sebaya serta pembinaan dan konseling kepada keluarga. Jika terjadi permasalahan yang tidak dapat ditangani di sekolah, maka peserta didik dapat dirujuk ke puskesmas atau rumah sakit.
(Sumber: Kompas.com)
By Redaksi:swaraproletar.id@merahmerdeka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here